Ketika buka email, dapat pemberitahuan dari moderator salah satu forum terbesar di Indonesia. K*SK*S, bahwa postingan dari sebuah thread akan di archived, daripada kehilangan posting itu, aku kumpulin aja disini, siapa tau berguna.
Ntah waktu itu awalnya ngobrolin apa, tentang brand, lalu bahas tentang Brand Activation, dan aku posting tentang Brand Activation, sederhana dan simpel aja, ini postingannya:
Brand Activation merupakan proses 'menghidupkan' brand di masyarakat dan menciptakan persepsi di benak konsumen, bisa melalui iklan, event, acara promo (seperti menggunakan SPG dan booth di supermarket), dll.
Brand Activation dilihat dari sisi Market Response, dapat dipetakan menjadi 4 poin, yang di singkat menjadi AIDA yaitu, Attention, Interest, Desire, dan Action.
Attention/Awareness
Mencuri perhatian masyarakat, dan membuat konsumen merasa ingin tahu tentang produk, atau brand.
Interest
Menciptakan ketertarikan masyarakat terhadap sebuah brand.
Seperti, kita tahu brand mobil BMW, dan mungkin sebagian dari kita juga tertarik untuk membeli. Meski tidak semua dari kita membeli atau menjadi konsumen produk ini.
Ada beberapa faktor, mungkin harganya terlalu mahal, atau didaerah tempat tinggal kita tidak tersedia, dll. 4P (Price, Place, Product, Promotion) marketing mix.
Atau mungkin hanya karena kita memang tidak berniat membeli, hanya tertarik. Seperti kita melihat handphone baru, kita tertarik, dan mampu membeli, tapi memang tidak ingin.
Desire
Dimana kita memiliki hasrat untuk membeli sebuah produk.
Seperti ketika kita melihat iklan sebuah handphone, kita tau, tertarik, dan ingin membeli.
Action
Tahap ketika konsumen sudah melakukan transaksi atau menjadi konsumen.
Dalam Brand Activation, juga perlu dipersiapkan dengan matang tentang kesediaan produk, kualitas produk, dll. Dan yang ngga kalah penting juga, support dari divisi lain juga di perlukan, sales, distribusi, dll. Karena Brand Activation, bisa menjadi Brand Deactivation
seperti contoh kasus berikut:
Di supermarket, sedang ada promo minuman berasa. ada rasa jeruk, mangga, dll. Setelah mencoba, konsumen suka dengan yang rasa anggur, dan ingin membeli. Setelah sampai di rak, ternyata yang tersedia hanya rasa lain, dan setelah di tanyakan, memang yang rasa anggur out of stock!!
Kekecewaan dari konsumen, bisa menciptakan Brand Perception yang negatif di benak konsumen. Yang awalnya ingin melakukan Brand Activation, tetapi yang terjadi malah sebaliknya.
Dalam Brand Activation — mempromosikan barang yang stock out adalah pemborosan resources! Brand Deactivation seperti ini harus dimonitor secara ketat oleh pemilik brand.
IMHO CMIIW
Tampilkan postingan dengan label brand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label brand. Tampilkan semua postingan
Selasa, 02 November 2010
Jumat, 14 Mei 2010
Memanfaatkan Social Media sebagai media promosi?
Udah jarang buka account facebook belakangan ini, karena setiap buka, selalu ada friend request, dan ternyata itu bukan sembarang friend. Ada yang namanya toko tas, jasa design, toko bunga, dan toko-toko yang lain. Yah, mungkin bisa dibilang, social media adalah tempat promosi murah. Siapapun bisa masuk kesana, yang penting punya email, sign up, verifikasi, selanjutnya terserah anda.
Sebenernya bukan hal yang aneh sih, udah marak dari beberapa tahun belakangan ini, cuma ada satu hal yang jadi perhatianku.
Mungkin ada satu hal yang banyak orang-orang lupa, bahwa social media adalah tempat manusia sekarang berkomunikasi. Dan pola komunikasi di social media, alurnya agak kurang jelas. Yang dalam teori komunikasi klasik, produsen sebagai komunikator, melempar pesan dan mendapat feedback dari konsumen, terlihat samar disini.
Seperti disebut oleh The Cluetrain Manifeseto: Markets are conversations. Di era social media, konsumen bukan lagi individu-individu pembeli, namun berjejering, yang saling bercakap-cakap satu sama lain. Jejaring konsumen yang saling bertukar info inilah yang membuat pasar menjadi kian cerdas dan kritis. Orang sekarang lebih percaya "apa kata teman" daripada "apa kata iklan".
Brand yang masuk ke social media, selayaknya harus siap dengan hal ini, bisa dibilang, pemasaran di social media karakternya adalah percakapan (conversations). Dan percakapan itu pada suatu titik harus bisa meningkat ke tahap engagement supaya bukan hanya meningkatkan brand awareness, tetapi juga dapat menciptakan selling dan brand loyalty.
Jadi mungkin yang perlu di perhatikan, adalah 2 kata kunci ini, conversations dan engagement.
Banyak brand melakukan percakapan yang sebenernya tidak bermakna untuk konsumen sehingga lama-kelamaan eksistensi mereka di social media diabaikan oleh pengguna social media. Banyak akun merek di social media yang mungkin jumlah fans/follower/friends – nya mencapai beribu-ribu. Tapi kalau diliat tidak melakukan percakapan. Para fans/follower/friends yang banyak itu menjadi fans/follower/friends “mati”.
Apalagi kalau brand itu hanya memasang foto-foto produk, update status berisi kata-kata promo "barang baru" "event baru" "buka cabang" dll, mungkin hanya mengena awareness bagi masyarakat, tidak sampai interest, desire kemudian action. Mereka hanya akan jadi "tontonan publik".
Kecenderungan masyarakat sekarang, haus akan info-info baru, apalagi seputar kehidupan mereka. Tanpa disuruhpun, mereka akan meneruskan info itu untuk teman-temannya. jika brand conversation dan mencapai engagement dengan konsumennya, mereka akan seperti memiliki marketing dan PR "gratisan" diluar sana. Jadi, mungkin dua hal tersebut (conversations dan engagement), alangkah baiknya kalau diperkuat dengan insight secara terus menerus.
- IMHO - CMIIW -
Sebenernya bukan hal yang aneh sih, udah marak dari beberapa tahun belakangan ini, cuma ada satu hal yang jadi perhatianku.
Mungkin ada satu hal yang banyak orang-orang lupa, bahwa social media adalah tempat manusia sekarang berkomunikasi. Dan pola komunikasi di social media, alurnya agak kurang jelas. Yang dalam teori komunikasi klasik, produsen sebagai komunikator, melempar pesan dan mendapat feedback dari konsumen, terlihat samar disini.
Seperti disebut oleh The Cluetrain Manifeseto: Markets are conversations. Di era social media, konsumen bukan lagi individu-individu pembeli, namun berjejering, yang saling bercakap-cakap satu sama lain. Jejaring konsumen yang saling bertukar info inilah yang membuat pasar menjadi kian cerdas dan kritis. Orang sekarang lebih percaya "apa kata teman" daripada "apa kata iklan".
Brand yang masuk ke social media, selayaknya harus siap dengan hal ini, bisa dibilang, pemasaran di social media karakternya adalah percakapan (conversations). Dan percakapan itu pada suatu titik harus bisa meningkat ke tahap engagement supaya bukan hanya meningkatkan brand awareness, tetapi juga dapat menciptakan selling dan brand loyalty.
Jadi mungkin yang perlu di perhatikan, adalah 2 kata kunci ini, conversations dan engagement.
Banyak brand melakukan percakapan yang sebenernya tidak bermakna untuk konsumen sehingga lama-kelamaan eksistensi mereka di social media diabaikan oleh pengguna social media. Banyak akun merek di social media yang mungkin jumlah fans/follower/friends – nya mencapai beribu-ribu. Tapi kalau diliat tidak melakukan percakapan. Para fans/follower/friends yang banyak itu menjadi fans/follower/friends “mati”.
Apalagi kalau brand itu hanya memasang foto-foto produk, update status berisi kata-kata promo "barang baru" "event baru" "buka cabang" dll, mungkin hanya mengena awareness bagi masyarakat, tidak sampai interest, desire kemudian action. Mereka hanya akan jadi "tontonan publik".
Kecenderungan masyarakat sekarang, haus akan info-info baru, apalagi seputar kehidupan mereka. Tanpa disuruhpun, mereka akan meneruskan info itu untuk teman-temannya. jika brand conversation dan mencapai engagement dengan konsumennya, mereka akan seperti memiliki marketing dan PR "gratisan" diluar sana. Jadi, mungkin dua hal tersebut (conversations dan engagement), alangkah baiknya kalau diperkuat dengan insight secara terus menerus.
- IMHO - CMIIW -
Label:
brand,
communication,
insight,
social media
Senin, 10 Mei 2010
‘Agama’, ‘nabi’ dan ‘kitab suci’ baru di social media
Mengamati laju social media, beberapa individu mulai menunjukkan brand identitiy nya masing-masing, layaknya sebuah brand. Di social media, brand berusaha bertingkah laku se-manusia mungkin. Berbicara spontan, tanpa membawa sifat corporate-nya yang terlalu beriklan dan kaku.
Sebaliknya, manusia juga belajar untuk menjadi sebuah brand. Mulai dari menulis biodata, apa yang disuka dan tidak, seperti apa kita, siapa kita. Manusia seakan ingin menunjukkan, ini aku, dan bukan seperti mereka, aku beda, dan inilah differensiasi ku.
Bahkan kemudian berpikir sebelum menuliskan status di Facebook, apakah akan memberi efek negatif, atau memang sengaja melakukan kontroversi. Nge-tweet biar di RT orang, atau sekedar dibaca orang, di respon. You’re acting like a brand now.
Padahal sebelum ini masih sering dijumpai (bahkan sekarang mungkin masih) setiap individu asik mengobral kehidupan pribadi di social media, menceritakan masalah pribadi yang orang lain belum tentu mengerti apa maksudnya. Seolah semua orang layak untuk tahu tentang kehidupannya, apa yang dilakukannya, apa yang di rasakan, act like a public figure. Tujuannya semua sama, point of view.
Di social media, kita memiliki full access untuk memilih, informasi apa yang akan kita serap. Apa yang menurut kita sesuai dengan dengan kita, apa yang kita anggap penting, dan apa yang ‘ini gue banget’.
Seolah setiap orang berusaha mencari ‘agama’, ‘nabi,’ dan ‘kitab suci’-nya sendiri. Pun, begitu juga dengan brand, berusaha menyebarkan ‘agama’, ‘kitab suci’, dan menjadi ‘nabi’ bagi kaum dan pengikutnya.
Orang-orang setiap hari mantengin situs warta, blog, forum, berusaha mencari info dan menjadi yang pertama menyebarkan di social media. Atau menjadi pertama yang menyebarkan info dari orang yang di follow. Sebagian orang menjadi ‘nabi’ bagi pengikut-pengikutnya. Bagi kaskuser (sebutan bagi maniak kaskus) mem-follow moderator atau admin adalah “wajib” hukumnya. Mereka sudah seperti ‘nabi’ yang menyebarkan ajaran ‘agama’.
Info dari admin atau moderator itu sangat penting, dan berusaha untuk menyebarkan itu kesemua friend atau follower-nya. Mengikuti perkembangan dari sebuah forum, juga ngga kalah penting, menunjukkan kalo dirinya eksis, dan bangga menunjukkan identitasnya sebagai anggota sebuah forum.
Bahkan ketika beberapa waktu ini twitter sempat kena hack oleh seseorang, sehingga beberapa (mungkin semua) orang memiliki 0 followers dan 0 following. Orang merasa resah karena kehilangan follower. Hehehehehe, seperti brand yang kehilangan konsumennya.
Apakah semua karena materi? Semua hanya karena kebutuhan akan pengakuan, eksistensi, serta pembenaran akan statement dan diikuti banyak orang.
Jika Brand berada didalam social media, dan dapat menjadi sebuah ‘agama’, menciptakan ‘kitab suci’ dan memliki ‘nabi’ yang di percaya oleh penganut-penganutnya. Bukan tidak mungkin, pembentukan opini publik berada ditangan ‘sepenuhnya’.
CMIIW
Sebaliknya, manusia juga belajar untuk menjadi sebuah brand. Mulai dari menulis biodata, apa yang disuka dan tidak, seperti apa kita, siapa kita. Manusia seakan ingin menunjukkan, ini aku, dan bukan seperti mereka, aku beda, dan inilah differensiasi ku.
Bahkan kemudian berpikir sebelum menuliskan status di Facebook, apakah akan memberi efek negatif, atau memang sengaja melakukan kontroversi. Nge-tweet biar di RT orang, atau sekedar dibaca orang, di respon. You’re acting like a brand now.
Padahal sebelum ini masih sering dijumpai (bahkan sekarang mungkin masih) setiap individu asik mengobral kehidupan pribadi di social media, menceritakan masalah pribadi yang orang lain belum tentu mengerti apa maksudnya. Seolah semua orang layak untuk tahu tentang kehidupannya, apa yang dilakukannya, apa yang di rasakan, act like a public figure. Tujuannya semua sama, point of view.
Di social media, kita memiliki full access untuk memilih, informasi apa yang akan kita serap. Apa yang menurut kita sesuai dengan dengan kita, apa yang kita anggap penting, dan apa yang ‘ini gue banget’.
Seolah setiap orang berusaha mencari ‘agama’, ‘nabi,’ dan ‘kitab suci’-nya sendiri. Pun, begitu juga dengan brand, berusaha menyebarkan ‘agama’, ‘kitab suci’, dan menjadi ‘nabi’ bagi kaum dan pengikutnya.
Orang-orang setiap hari mantengin situs warta, blog, forum, berusaha mencari info dan menjadi yang pertama menyebarkan di social media. Atau menjadi pertama yang menyebarkan info dari orang yang di follow. Sebagian orang menjadi ‘nabi’ bagi pengikut-pengikutnya. Bagi kaskuser (sebutan bagi maniak kaskus) mem-follow moderator atau admin adalah “wajib” hukumnya. Mereka sudah seperti ‘nabi’ yang menyebarkan ajaran ‘agama’.
Info dari admin atau moderator itu sangat penting, dan berusaha untuk menyebarkan itu kesemua friend atau follower-nya. Mengikuti perkembangan dari sebuah forum, juga ngga kalah penting, menunjukkan kalo dirinya eksis, dan bangga menunjukkan identitasnya sebagai anggota sebuah forum.
Bahkan ketika beberapa waktu ini twitter sempat kena hack oleh seseorang, sehingga beberapa (mungkin semua) orang memiliki 0 followers dan 0 following. Orang merasa resah karena kehilangan follower. Hehehehehe, seperti brand yang kehilangan konsumennya.
Apakah semua karena materi? Semua hanya karena kebutuhan akan pengakuan, eksistensi, serta pembenaran akan statement dan diikuti banyak orang.
Jika Brand berada didalam social media, dan dapat menjadi sebuah ‘agama’, menciptakan ‘kitab suci’ dan memliki ‘nabi’ yang di percaya oleh penganut-penganutnya. Bukan tidak mungkin, pembentukan opini publik berada ditangan ‘sepenuhnya’.
CMIIW
Langganan:
Postingan (Atom)