Tampilkan postingan dengan label social media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label social media. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Juni 2010

Pergeseran Peran Agenda Setting Komunikasi Massa

dikutip dari sebuah blog
sayangnya saya kehilangan link aslinya, sudah cukup lama..
enjoy..

------

Dalam ilmu komunikasi massa, pembicaraan mengenai relasi antara media dengan audiens-nya memang dianggap sebagai bagian yang paling sulit dirumuskan secara teoritis. Dulu ada yang namanya Teori Peluru atau dikenal juga sebagai Teori Jarum Suntik, yang berasumsi bahwa isi media mempengaruhi audiens layaknya peluru yang menembus sasaran tanpa hambatan, atau seperti sesuatu yang disuntikkan ke dalam tubuh.

Seiring dengan perkembangan zaman, di mana manusia semakin pintar dan kritis, maka teori itu pun gugur. Nyatanya, audiens media bukanlah sekumpulan orang yang pasif dan menerima begitu saja pesan yang disampaikan oleh saluran-saluran komunikasi. Maka, kemudian lahirlah teori-teori lain, salah satu yang penting dan masih relevan sampai sekarang adalah Teori Agenda Setting. Ide dasarnya: media (komunikasi) massa lebih dari sekedar pemberi informasi dan opini. Oke, media mungkin tidak atau kurang berhasil membuat orang untuk memikirkan sesuatu. Namun, teori ini percaya bahwa media sangat berhasil mendorong audiens-nya untuk menentukan apa yang perlu mereka pikirkan. Dengan kata lain, Agenda Setting menggambarkan betapa “powerful”-nya (pengaruh) media, terutama dalam kemampuannya menunjukkan kepada kita, ini lho isu-isu yang penting. Dengan demikian, teori ini mengandung asumsi bahwa media tidak semata-mata mengabarkan informasi dan opini, melainkan lebih daripada itu, juga menyeleksi dan menentukan informasi maupun opini tersebut. Artinya, media sebenarnya hanya berkonsentrasi pada isu-isu tertentu yang jumlahnya mungkin sedikit, dan kemudian membuat audiens menerima bahwa memang itulah isu-isu yang lebih penting dibandingkan isu-isu lainnya yang banyak sekali.

Teori Agenda Setting berkembang pada dekade 60-an, ketika belum ada internet. Dan, kalau tadi saya bilang “masih relevan”, maka sekarang, dengan mengingat munculnya teknik-teknik dan media-media baru komunikasi dewasa ini, mungkin bisa dipertanyakan kembali, benarkah masih serelevan itu? Tentu saja, apa yang disebut sebagai pengaruh pers (koran, majalah, radio, televisi) itu masih ada, dan tetap nyata dan boleh dibilang, juga tetap besar. Namun, kini peran itu sudah digerogoti, untuk kemudian dibagi, oleh blog dan situs-situs jaringan sosial di internet. Bahkan, dalam batas dan kasus tertentu, peran itu sudah bergeser. Apa yang penting bagi publik sekarang ini tidak lagi (hanya) ditentukan oleh koran nasional atau stasiun TV besar, melainkan juga oleh postingan di blog, video yang mungkin di-unggah secara iseng di Youtube, konversasi di Facebook atau bahkan mungkin “status” seseorang (yang cukup berpengaruh) di Twitter.

Kasus monster air Pantai Ancol barangkali akan menjadi salah satu contoh klasik untuk pergeseran peran agenda setting (dari) media massa ke social media. Kabar mengenai adanya monster air itu berawal dari sebuah video di Youtube, yang kemudian menjadi obrolan di Forum Kaskus. Detikcom kemudian mengembangkannya, me-running beritanya, bahkan sampai mewawancarai Wapres Jusuf Kalla segala sehingga menimbulkan efek dramatis yang mencekam –seolah-olah ini sesuatu yang sangat gawat, dan oleh karenanya perlu mendapat perhatian semua pihak. Hingga akhirnya koran-koran dan televisi pun “menindaklanjuti”-nya. Menarik untuk mencermati, bagaimana media online seperti Detikcom, yang di awal kemunculannya diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh para budayawan serius (yang mengatakan bahwa berita-beritanya dangkal, tidak akurat, dan kurang bisa dipercaya), dalam perkembangannya justru memainkan peran yang krusial dalam mengarahkan agenda media-media besar, cetak maupun elektronik. Saya sendiri kebetulan adalah bagian dari generasi pertama wartawan (media) online di Indonesia, dan kami sering tertawa-tawa senang menyaksikan rekan-rekan sejawat dari media konvensional dibuat repot oleh berita-berita yang langsung tayang “detik itu juga” di media kami. “Gara-gara berita lu, nih gue jadi disuruh redaktur gue untuk ngembangin isu ini,” begitulah kira-kira gambaran kasarnya. Dengan kata lain, suatu isu mendadak menjadi penting ketika dilaporkan oleh Detikcom –lebih-lebih jika isu itu di-update terus-menerus. Efek dari “running news” ala dotcom semacam itu memang ampuh dalam meningkatkan nilai berita sebuah informasi atau isu tertentu, yang tak jarang membuat para redaktur koran dan TV kalang-kabut.

Belakangan, dengan semakin maraknya penggunaan media-media jaringan sosial di internet macam Facebook dan Twitter, berita-berita dari media online (tidak hanya Detikcom), tapi (sekarang juga ada) Kompas.com, Vivanews, Okezone, Inilah.com dan lain-lain) semakin menemukan jalan mulus untuk memainkan “kepemimpinan”-nya dalam agenda setting komunikasi massa. Para blogger, Facebooker, dan pecandu micro-blogging lewat Twitter dan Plurk sering secara sukarela “membawa” berita-berita dari media-media online tersebut ke blog dan social media, baik dalam bentuk postingan, informasi link, maupun pernyataan di status. Dan, semua itu kemudian menciptakan konversasi yang panjang dan ramai. Waktu terjadi pembunuhan di Pasific Place beberapa waktu lalu misalnya, seorang teman saya membuat postingan yang selain “mengabarkan kembali” peristiwa itu, sekaligus juga mengungkapkan kekhawatirannya akan ibukota yang semakin tidak aman. Dan, ternyata, banyak dari pembaca yang berkomentar, baru tahu mengenai berita pembunuhan itu dari postingan tersebut. Ketika sebuah helikopter militer lagi-lagi terjatuh, Pemimpin Redaksi Detikcom Budiono Darsono langsung memasang link berita dari media yang dipimpinnya mengenai peristiwa itu di Facebook-nya. Pada saat yang berbarengan, sejumlah awak redaksi lainnya juga melakukan hal yang sama. Bayangkan, kalau semua awak redaksi sebuah media online memasang setiap link hot news di Facebook dan/atau Twitter masing-masing! Betapa akan sangat besar dampaknya dalam mempengaruhi agenda setting komunikasi massa.

Kasus Prita adalah contoh paling segar tentang kedahsyatan konversasi online dalam mempengaruhi agenda setting media massa secara umum. Begitu ramainya postingan di blog dan pembicaraan di Facebook yang mengungkapkan keprihatinan, dukungan maupun simpati atas Prita yang dituntut karena dituduh mencermarkan nama baik Rumah Sakit Omni Tangerang, koran-koran, majalah dan televisi pun kemudian beramai-ramai menjadikannya laporan utama. Ini bisa diartikan bahwa secara tidak langsung blog dan social media telah mampu menjadi kekuatan penekan –sebuah peran politis yang penting dan strategis, yang sebelumnya, selama ini, (hanya) dimiliki oleh pers “resmi”.

-----

monggo untuk di tag dan berbagi dengan orang lain..

Jumat, 14 Mei 2010

Memanfaatkan Social Media sebagai media promosi?

Udah jarang buka account facebook belakangan ini, karena setiap buka, selalu ada friend request, dan ternyata itu bukan sembarang friend. Ada yang namanya toko tas, jasa design, toko bunga, dan toko-toko yang lain. Yah, mungkin bisa dibilang, social media adalah tempat promosi murah. Siapapun bisa masuk kesana, yang penting punya email, sign up, verifikasi, selanjutnya terserah anda.

Sebenernya bukan hal yang aneh sih, udah marak dari beberapa tahun belakangan ini, cuma ada satu hal yang jadi perhatianku.

Mungkin ada satu hal yang banyak orang-orang lupa, bahwa social media adalah tempat manusia sekarang berkomunikasi. Dan pola komunikasi di social media, alurnya agak kurang jelas. Yang dalam teori komunikasi klasik, produsen sebagai komunikator, melempar pesan dan mendapat feedback dari konsumen, terlihat samar disini.

Seperti disebut oleh The Cluetrain Manifeseto: Markets are conversations. Di era social media, konsumen bukan lagi individu-individu pembeli, namun berjejering, yang saling bercakap-cakap satu sama lain. Jejaring konsumen yang saling bertukar info inilah yang membuat pasar menjadi kian cerdas dan kritis. Orang sekarang lebih percaya "apa kata teman" daripada "apa kata iklan".

Brand yang masuk ke social media, selayaknya harus siap dengan hal ini, bisa dibilang, pemasaran di social media karakternya adalah percakapan (conversations). Dan percakapan itu pada suatu titik harus bisa meningkat ke tahap engagement supaya bukan hanya meningkatkan brand awareness, tetapi juga dapat menciptakan selling dan brand loyalty.

Jadi mungkin yang perlu di perhatikan, adalah 2 kata kunci ini, conversations dan engagement.

Banyak brand melakukan percakapan yang sebenernya tidak bermakna untuk konsumen sehingga lama-kelamaan eksistensi mereka di social media diabaikan oleh pengguna social media. Banyak akun merek di social media yang mungkin jumlah fans/follower/friends – nya mencapai beribu-ribu. Tapi kalau diliat tidak melakukan percakapan. Para fans/follower/friends yang banyak itu menjadi fans/follower/friends “mati”.

Apalagi kalau brand itu hanya memasang foto-foto produk, update status berisi kata-kata promo "barang baru" "event baru" "buka cabang" dll, mungkin hanya mengena awareness bagi masyarakat, tidak sampai interest, desire kemudian action. Mereka hanya akan jadi "tontonan publik".

Kecenderungan masyarakat sekarang, haus akan info-info baru, apalagi seputar kehidupan mereka. Tanpa disuruhpun, mereka akan meneruskan info itu untuk teman-temannya. jika brand conversation dan mencapai engagement dengan konsumennya, mereka akan seperti memiliki marketing dan PR "gratisan" diluar sana. Jadi, mungkin dua hal tersebut (conversations dan engagement), alangkah baiknya kalau diperkuat dengan insight secara terus menerus.

- IMHO - CMIIW -

Senin, 10 Mei 2010

‘Agama’, ‘nabi’ dan ‘kitab suci’ baru di social media

Mengamati laju social media, beberapa individu mulai menunjukkan brand identitiy nya masing-masing, layaknya sebuah brand. Di social media, brand berusaha bertingkah laku se-manusia mungkin. Berbicara spontan, tanpa membawa sifat corporate-nya yang terlalu beriklan dan kaku.

Sebaliknya, manusia juga belajar untuk menjadi sebuah brand. Mulai dari menulis biodata, apa yang disuka dan tidak, seperti apa kita, siapa kita. Manusia seakan ingin menunjukkan, ini aku, dan bukan seperti mereka, aku beda, dan inilah differensiasi ku.

Bahkan kemudian berpikir sebelum menuliskan status di Facebook, apakah akan memberi efek negatif, atau memang sengaja melakukan kontroversi. Nge-tweet biar di RT orang, atau sekedar dibaca orang, di respon. You’re acting like a brand now.

Padahal sebelum ini masih sering dijumpai (bahkan sekarang mungkin masih) setiap individu asik mengobral kehidupan pribadi di social media, menceritakan masalah pribadi yang orang lain belum tentu mengerti apa maksudnya. Seolah semua orang layak untuk tahu tentang kehidupannya, apa yang dilakukannya, apa yang di rasakan, act like a public figure. Tujuannya semua sama, point of view.

Di social media, kita memiliki full access untuk memilih, informasi apa yang akan kita serap. Apa yang menurut kita sesuai dengan dengan kita, apa yang kita anggap penting, dan apa yang ‘ini gue banget’.

Seolah setiap orang berusaha mencari ‘agama’, ‘nabi,’ dan ‘kitab suci’-nya sendiri. Pun, begitu juga dengan brand, berusaha menyebarkan ‘agama’, ‘kitab suci’, dan menjadi ‘nabi’ bagi kaum dan pengikutnya.

Orang-orang setiap hari mantengin situs warta, blog, forum, berusaha mencari info dan menjadi yang pertama menyebarkan di social media. Atau menjadi pertama yang menyebarkan info dari orang yang di follow. Sebagian orang menjadi ‘nabi’ bagi pengikut-pengikutnya. Bagi kaskuser (sebutan bagi maniak kaskus) mem-follow moderator atau admin adalah “wajib” hukumnya. Mereka sudah seperti ‘nabi’ yang menyebarkan ajaran ‘agama’.

Info dari admin atau moderator itu sangat penting, dan berusaha untuk menyebarkan itu kesemua friend atau follower-nya. Mengikuti perkembangan dari sebuah forum, juga ngga kalah penting, menunjukkan kalo dirinya eksis, dan bangga menunjukkan identitasnya sebagai anggota sebuah forum.

Bahkan ketika beberapa waktu ini twitter sempat kena hack oleh seseorang, sehingga beberapa (mungkin semua) orang memiliki 0 followers dan 0 following. Orang merasa resah karena kehilangan follower. Hehehehehe, seperti brand yang kehilangan konsumennya.

Apakah semua karena materi? Semua hanya karena kebutuhan akan pengakuan, eksistensi, serta pembenaran akan statement dan diikuti banyak orang.

Jika Brand berada didalam social media, dan dapat menjadi sebuah ‘agama’, menciptakan ‘kitab suci’ dan memliki ‘nabi’ yang di percaya oleh penganut-penganutnya. Bukan tidak mungkin, pembentukan opini publik berada ditangan ‘sepenuhnya’.

CMIIW

They call it PR 2.0

Internet membuat kerja praktisi komunikasi mengalami perubahan yang sangat luar biasa lantaran munculnya fenomena social media seperti Facebook, Twitter, Plurk, dan sebagainya. Public Relation bukan hanya harus lihai berhubungan dengan influencer, termasuk media, tetapi juga dituntut untuk fasih berhubungan langsung dengan konsumen. Konsumen yang bergabung di social media tidak butuh bahasa yang manis dan formal ala siaran pers. Yang mereka butuhkan adalah juru bicara perusahaan yang mengerti kebutuhan mereka dan sekaligus merespon keluhan mereka secepat mungkin, dan bisa berinteraksi langsung dengan mereka dan melakukan percakapan.

Kasus RS Internasional Omni Hospital, Alam Sutra, Serpong, Tangerang Selatan melawan pasiennya sendiri, Prita Mulyasari, yang dituduh mencemarkan nama baik karena menyebarluaskan keluhan lewat email, justru memperburuk citra rumah sakit itu sendiri. Keputusan manajemen untuk membawa kasus itu ke ranah hukum dan berakibat memenjarakan ibu dua anak balita itu, dianggap semena-mena dan menimbulkan perlawanan massal dari pengguna internet lewat berbagai gerakan di online social media, baik lewat blog, mailing list, serta social networking seperti Facebook. Tanpa memahami perilaku konsumen di dunia online, perusahaan tidak mungkin dapat membangun strategi komunikasi dengan konsumennya. Tanpa hidup di dunia maya, perusahaan tidak akan mampu bercengkerama dengan pelanggannya. Maka membangun budaya online hukumnya wajib saat ini.

Jika upaya praktisi Public Relation dalam membangun citra positif perusahaan hanya dilakukan dengan bicara positif ke wartawan dan media massa. Jika mereka melakukan kegiatan-kegiatan corporate social responsibility yang standar dengan menulis advertorial di sebanyak mungkin surat kabar mengenai perilaku baik perusahaan, profesi Public Relation benar-benar berada diambang kehancuran. “Kalau praktisi Public Relation masih menyikapi pekerjaannya seperti itu, bahaya. Profesi Public Relation bisa bakal mati.,” ucap Yuswohady, penulis buku Crowd yang juga Chief Executive, MarkPlus Institute of Marketing (MIM)

Bukan hanya perilaku konsumen yang berubah dengan adanya social media, tapi juga kecepatan perubahan medium di social media. Tiga tahun lalu Friendster merajalela di Indonesia. Namun sejak setahun Facebooklah yang menjadi fenomena. Apa boleh buat, praktisi Public Relation juga harus berpacu melawan kencangnya laju perkembangan media online di soial media ini.

Fakta ini, bagaimana pun juga akan mempengaruhi strategi komunikasi online perusahaan-perusahaan dan merek di Indonesia. Social media sudah saatnya menjadi bagian penting dari strategi komunikasi di Indonesia. Tanpa memahami perilaku konsumen di dunia online, perusahaan tidak mungkin dapat membangun strategi komunikasi dengan konsumennya. Tanpa hidup di dunia maya, perusahaan tidak akan mampu bercengkerama dengan pelanggannya. Maka membangun budaya online hukumnya wajib saat ini.

Menurut Handito Hadi Joewono, Presiden Arbey Indonesia, ada 7 (tujuh) indikator keberhasilan bersaing perusahaan atau institusi yang disebut “7n1 Competitive Indicator”, yakni: sales, market share, customer awareness, customer image, customer satisfaction, customer loyalty, stakeholder value through frofit, dan growth.

Untuk mencapai ketujuh indikator itu, diperlukan tiga pilar kokoh dari operasional layanan bisnis perusahaan, yang tak lain adalah: Selling, Marketing dan Services, yang disingkat SMS.

Tiga pilar Selling, Marketing dan Services, saling mendukung satu sama lain untuk mencapai tujuan perusahaan. Marketing misalnya, punya tugas penting mendukung pencapaian kinerja Selling (berupa sales dan market share) dan Service (berupa customer satisfaction dan customer loyalty).

Komunikasi (PR) yang memegang peran penting, Service, sangat butuh untuk berinteraksi langsung dengan konsumen dan melakukan percakapan. Tentu saja, ini bukan pekerjaan mudah. Apalagi praktisi PR itu wajib “berbicara” sesuai brand personality yang diwakilinya. Ironis, ketika melihat PR atau MARCOM sekalipun, rutinitasnya hanya surat menyurat, jadi ‘tameng’ perusahaan ketika didera isu, atau menyiapkan surat ijin.

Apalagi dijaman sekarang, dimana internet sudah bukan barang langka, dan social media sudah jadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dimana konsumen bebas berteriak di Internet. Produk yang mengecewakan atau cacat tak mudah ditutupi. Sebuah perkataan di social media, akan dengan sangat mudah ter-viral ke konsumen lain, atau bahkan calon konsumen.

Brand dan Manusia Bisa Saling Belajar di Social Media.

Oleh Adhitia Sofyan

“Nanti siang meeting di brand x, mereka mau masuk ke social media”, kata seorang rekan di kantor pagi itu. Yak, meeting dengan agenda ini menjadi sangat sering terjadi sekarang. Semua brand mau masuk ke Facebook, semua brand mau nyemplung di Twitter. Kenapa? Ya simple, karena kita semua sedang ngumpul disitu sekarang, gak lagi melulu di depan tivi, atau radio atau baca media cetak.

Social media adalah tempat manusia biasa (baca : bukan brand) berkumpul dan berkomunikasi. Tentu saja caranya sangat bebas, apa adanya dan spontan, karena Facebook, Twitter dan Blog bukanlah milik brand seperti halnya product site. Cara biasa brand berkomunikasi yang kaku, sangat iklan, selalu ingin sempurna tanpa cacat tidak akan berhasil di social media. Brand harus menyesuaikan diri, melepas atribut-atribut korporatnya yang dinilai kaku dan tampil lebih luwes di social media; jujur, spontan, mendengarkan konsumen, mendengarkan konsumen, mendengarkan konsumen, ya, saya sebut 3 kali memang, dan engage dengan mereka.

Sebaliknya daripada yang diatas (lah…kok kayak srimulat), dengan berpartisipasinya kita (manusia biasa, non-brand) di social media; Facebook, Twitter, blog dsb, mau tidak mau kita sudah menempatkan diri sebagai brand. Kita menulis di online biodata, siapa kita, what we believe and stand for, dan berkomunikasi berdasarkan poin-poin tadi, terkadang kita juga jadi menjaga diri, berhati-hati pasang status FB atau pikir-pikir sebelum nge-tweet biar gak malu-maluin, nah…you’re acting like a brand now!

Sayangnya tidak sedikit manusia (non-brand) yang suka lupa bahwa social media adalah ruang publik; ada friends dan followers yang semuanya bisa melihat apa yang kita ‘sajikan’ di social media. Friends dan followers ini adalah jaringan besar daripada friends dan followers lain yang saling bisa berkomunikasi dan mem-forward konten. Mau tidak mau, dengan keikutsertaan kita di social media berarti kita dengan sukarela telah menjadikan diri kita sebagai bahan tontonan buat orang banyak. Tidak jarang masalah serta konflik personal muncul karena sang manusia kurang bisa menjaga, me-manage dan menahan diri di social media.

Nah, sebetulnya di social media, brand dan manusia bisa saling belajar dari masing-masing. Brand yang terlalu nge-brand; kaku, membosankan, korporatif, takut salah, gak mau dengerin orang, mau sempurna terus dll bisa belajar untuk agak santai dan luwes dari manusia (which I found this should be easy since brands are handled by humans anyway, is that they tend to forget that they are humans and become boring marketing machines when they go to office and become the brand they’re working for).

Now, manusia bisa belajar dari brand dalam berkomunikasi di social media. Mungkin bisa mulai mencantumkan data diri yang kredibel (or yeah..you can keep it as ‘weird space alien dorkface’ if you’d like), mulai me-manage diri dalam ber-social media; apa yang mesti atau tidak semestinya di share ke publik, info apa yang patut dipasang atau tidak, berpikir sebelum nge-tweet, safe atau tidak tweeting-an saya ini, bagaimana kalau dilihat followers, ingat-ingat siapa saja yang mem-follow atau friends kita, apakah kita sudah mempelajari dan memahami cara Facebook dan Twitter (misal) bekerja dll dsb.

- Misal :RT in Twitter does not mean Reply Tweet, and Twitter is not Yahoo Messenger (chatting hahahihi gak penting di Twitter) nor it is an sms-ing platform ,(“Eh, gue udah nyampe nih, lu dimana?” via Twitter). Ignore these and you might be perceived as annoying and ignorant.


Intinya common sense saja, you should act depending on where you are, kalau di kamar mandi, silakang bertingkah seperti di kamar mandi, kalau di warung, monggo bertingkah seperti di warung, kalau di masjid ya sadarlah kalau sedang di masjid, kalau di gala dinner ya you should now what to do, dan demikian pula kalau sedang di social media. Know where you are, brand, manusia, selamat datang di social media, mari saling belajar.

source: Brand dan Manusia Bisa Saling Belajar di Social Media.